Breaking News

[Review Buku]: Guru Aini



Judul Buku : Guru Aini
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2020

Desi Istiqomah. Gadis kecil yang ingin menjadi Guru Matematika sejak berjumpa dengan Bu Guru Marlis, kelas 3 SD dulu. Dari kecil Desi sangat sulit dikendalikan. Tiada siapapun yang dapat mencegah keinginan si bungsu permata hati itu untuk masuk sekolah D-3 Guru Matematika. Baginya  pendidikan memerlukan pengorbanan, pengorbanan itu nilai tetap, konstan, dan tak boleh berubah. Setelah melalui masa kuliah, lalu tibalah masa yang paling mendebarkan, undian pembagian lokasi  dimana lulusan akan mengajar. Desi Istiqomah yang sangat ingin sekali mengajar di pelosok menukar gulungan kertas miliknya yang berisi Bagansiapiapi dengan gulungan kertas milik Salamah yang berisi Pulau Tanjong yang entah berada dipulau mana.
Butuh waktu 6 hari 6 malam untuk sampai di Pulau Tanjong. Menempuh perjalanan amat berat, berkali-kali ganti bus, angkutan umum, lalu menaiki kapal kayu seratan yang memuat  mulai dari barang-barang, manusia hingga hasil bumi dan ternak. Dari kapal satu menuju kapal lainnya. Beban berat hilang begitu saja ketika Desi berdiri menatap plang nama Ketumbi, daerah dimana dia akan mengajar Matematika. Malangnya, tak semudah yang Desi pikirkan. Pencariannya memiliki murid jenius dalam Matematika membawanya dalam pertualangan tak berujung. Sejak Bu Guru Desi mengajar di usia baru menginjak 18 tahun hingga kini menjadi perempuan dewasa sepenuhnya. Dan alasan ini jugalah yang membuatnya tidak mengganti sepatu olahraga pemberian ayahnya yang sudah lusuh tak layak pakai, bahkan sering dibicarakan murid-murid dibelakang nya sampai Ia mendapatkan murid yang jenius.
Nuraini binti Syarifudin atau yang biasa di panggil Aini adalah murid yang paling bebal dalam memahami Matematika, bahkan nilai nya saja 1 atau 0 sejak kelas 3 SD. Memiliki kebiasaan “Sakit Perut” ketika pelajaran Matematika, diturunkan dari Ibunya, Dinah dulu sewaktu sekolah, yang juga murid Bu Guru Desi. “Kalau ada pemilihan putri paling tak becus Matematika tingkat Provinsi Sumatera Selatan, lekas ku daftarkan kau, Dinah”. Kata Guru Matematika Desi Istiqomah. Aini mulai berubah sejak Ayahnya jatuh sakit dan ia tidak naik kekelas 2 SMA karena ia tak bisa masuk sekolah selama 7 bulan untuk menajaga Ayah nya karna Ibu nya harus mencari rezeki. Tabib mengatakan kepada Aini bahwa tidak ada obat untuk penyakit Ayahnya kecuali obat modern dari dokter. Sejak saat itulah Aini ingin menjadi seorang dokter untuk menyembuhkan Ayah nya. Ia harus pandai Matematika untuk bisa masuk ke fakultas kedokteran, mau tidak mau dia harus belajar dengan Guru Desi yang terkenal jenius dan sangat mengerikan.
Guru Desi tidak serta merta menerimanya. Beberapa waktu Ia menguji nyali Aini, butuh 5 minggu untuk membuat Aini mengerti akan Matematika, tidak ada 1 pun yang Aini mengerti. Guru Desi kehabisan cara untuk mengajarkan Aini Matematika, sampailah pada momentum Guru Desi memberikan Aini kalkulus. Setiap sore Aini datang kerumah Guru Aini untuk belajar, sedikit demi sedikit Aini mulai megerti. Seiring berjalannya waktu Aini mulai menyaingi Nadirah dan Jafarudin, 2 murid yang cukup pandai Matematika dikelas Guru Desi. Hari berganti minggu, minggu beganti bulan, bulan menggenap tahun Aini mengikuti ujian akhir dan tamat dari SMA. “Lulusan terbaik ketiga, Aini Cita-Cita Dokteeerrr…,” sorak Kepala Sekolah. “Wali kelasnya, Ibu Desi Istiqomaaahhh….”
Guru Desi dan Aini bertemu di jembatan besi Sungai Maharani “Di jembatan inilah dulu, Aini. Sore seperti ini aku berjalan kaki ketika baru tiba di kampung ini. Aku menunggal backpack yang besar dan berat karena penuh berisi buku. Aku berjalan dari arah terminal bus sana”. “Dijembatan inilah untuk pertama kalinya aku dipanggil Bu Guru. Terimakasih telah menjadi muridku, Aini. Kau membuatku merasa menjadi guru yang merdeka. Kehormatan besar bagiku menjadi gurumu”.
“Oh, terima kasih, Guru, terima kasih telah menjadi guruku. Kehormatan besar bagiku menjadi murid Ibu”.

Penulis : Resinta

1 komentar: