Breaking News

Si Miskin yang Sukses



Aku berasal dari keluarga yang kurang berada, ayahku bekerja sebagai petani sedangkan ibuku cuma ibu rumah tangga yang tidak mempunyai pekerjaan. Pagi-pagi sekali bahkan mataharipun belum menampakkan sinarnya di ufuk timur, ayahku sudah pergi bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan istri dan anaknya. Kehidupanku jauh dari kemewahan tetapi, aku bahagia walaupun hidup serba kekurangan aku masih bisa melihat kedua orang tuaku tersenyum. Setiap hari aku selalu mendengar ejekan dari teman-temanku yang mengatakan bahwa anak petani sepertiku tidak layak untuk menduduki bangku sekolah dan lebih baik membantu ibuku di rumah atau menikah saja dengan lelaki yang kaya supaya tidak miskin lagi. Semua yang aku dengar kadang menyakitkan hati, tapi aku tidak pernah membalas semua ejekan teman-temanku. Karena, ayah selalu bilang “sejahat apapun orang kepada kita jangan pernah membalas perbuatannya ataupun menyimpan dendam”. Tapi dengan cacian yang mereka lontarkan aku bertekad bahwa aku akan menjadi siswi yang berprestasi dan akan menutup rapat mulut mereka semua, bukankah cara terbaik untuk balas dendam yaitu dengan membuat diri kita menjadi orang sukses.
            Suatu hari, aku mengikuti lomba baca puisi di sekolahku karena aku memiliki kenyakinan bahwa aku pasti bisa melakukannya, saat di atas panggung ada seorang temanku yang meneriaki “Hei!!, kau anak orang miskin mana mungkin kau berhasil, baju saja pakai bekas orang, mana mungkin bisa menang? Hahahah.” Hatiku sangat hancur mendengarnya, namun aku tetap optimis dengan hasilnya. Setelah perlombaan itu saat pengumuman kejuaran dan hasilnya aku memang tidak pantas menang, aku gagal dalam perlombaan ini, sedangkan temanku yang mengejekku tadi mendapat juara 1 di perlombaan ini. Aku langsung pulang kerumah dan menceritakan semuanya kepada orang tuaku, ibuku bilang "kalah dalam sebuah perlombaan itu sudah biasa, jangan sedih ini baru awal dari kesuksesan." Ibuku selalu tahu cara menghibur anaknya yang lagi sedih.
            “Aku memang orang miskin, tapi apakah aku dilarang untuk menjadi orang yang sukses?” ucapku dalam hati sambil menangis. Setelah itu, aku tertidur karena kecapean seharian menangis di dalam kamar. Keesokan harinya, saat aku pulang sekolah aku melihat teman-temanku berkumpul di depan madding sekolah, karena penasaran aku menuju kedepan madding untuk memastikan, ternyata sekolahku mengadakan lomba olimpiade fisika. Karena tertarik aku langsung mencatat syarat-syarat yang diperlukan dan mempelajarinya dirumah. Sesampainya di rumah, aku belajar siang malam tiada hentinya hingga menjelang lomba tersebut aku jatuh sakit, orang tuaku mengatakan lebih baik aku beristirahat di rumah saja, tapi aku tetap berangkat mengikuti lomba. Saat lomba berlangsung tiba-tiba saja keadaan tubuh sedikit sehat sehingga aku bisa mengisi soal yang diberikan dengan lancar hingga selesainya lomba tersebut. Setelah selesai lomba aku jatuh pingsan dan dilarikan kepukesmas terdekat dan dirawat selama beberapa hari, aku menderita demam karna kurang tidur dan istirahat.
            Hari ini pengumuman Lomba Olimpiade Fisika di sekolahku diumumkan, saat sampai kesekolah teman-temanku berkumpul di mading sekolah, aku takut-takut untuk melihat hasil pengumuman hasil lomba yang ditempel di mading. Saat sudah di depan madding aku tidak meyangka bahwa aku mendapatkan peringkat 1 dalam lomba tersebut, karena terlalu bahagia aku meneteskan air mata, ternyata tidak sia sia aku selama berhari-hari belajar dengan rajin dan akhirnya membuahkan hasil juga.

Penulis : Viona Adetia
Editor : Gusti Herniyah Siregar
Ilustrasi : jokoleluuur.wordpress.com

1 komentar: