Breaking News

Hadiah Kecil Makin Berharga


Inmemoriam

Ahad, 15 Desember 2019

Mengikat Hikmah - Tiga hari sudah berpulangnya Etekku, Dra Hasnidar keharibaanNya. Jumat, pukul 02.10 WIB dinihari lalu. Salah satu sosok utama, menyertaiku berjuang melawan “stigma”. Bahwa sekelam apapun masa lalumu, ternyata masa depanmu masih putih. Kamu berhak menentukannya.

Dalam pekatnya kabut duka yang kian terasa.

Ketika beberapa waktu lalu, saya seakan menemukan harta karun yang luar biasa. Begitu bernilai bagi saya. Saat beres-beres di kamar belakang, kamar “lajang” saya. Di rumah ibu tercinta, Desa Teratak, Kecamatan Rumbio Jaya.

Sebuah foto hitam putih ukuran 15x10cm. Diperbesar dari pas foto, buku Rapor MDA saya. Saat ditemukan, bingkai dan kacanya sudah pecah. Padahal dulu, foto itu selalu terpajang diruang tidur saya. Karena seakan punya daya magis tersendiri bagi saya.

Foto itu merupakan salah satu hadiah istimewa. Paling berkesan bagi saya. Dari “Mak Etek” saya, Dra. Hasnidar. Adek sepupu ibu saya. Hadiah itu diberikan, karna saya berhasil jadi juara kelas. Meskipun ehm,, hanya juara tiga Sekolah Dasar (SD) dan juara dua Madrasah Diniyah Awaliah (MDA). 

Saat itu saya masih duduk kelas tiga SD dan kelas satu MDA. Sekitar tahun 1992. Tapi jujur, hadiah itulah sumber pemicu dan pemotivasi saya. Agar bisa selalu jadi juara kelas, pada “caturulan-caturulan” berikutnya. Meski adakalanya, badai itu datang memporak poranda.

Memang, dari dulu Mak etek Hasnidar merupakan orang yang paling peduli pada pendidikan dan potensi-potensi yang melekat pada saya. Ditengah domininasi keurangan fisik yang melekat pada saya. 

Mulai dari kemampuan Muhadhoroh, mengarang dan sebagainya. Bahkan waktu MDA, ia pernah mengantarkan saya juara satu Muhadhoroh tingkat kecamatan. Ternyata di bidang Muhadharah, itu prestasi prestisius dan terakhir saya ha..ha..

Sedangkan ibu saya, mesti pergi pagi pulang petang. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, yang sangat sulit saat itu. Dengan berjualan di pasar-pasar tradisional di Kampar. Mulai dari jualan “Limau kouk”, hingga terakhir jualan beras dari pasar ke pasar. 

Makanya, masa-masa kecil saya, lebih banyak dengan adek-adeknya. Etek Hasnidar termasuk salah satunya yang paling dekat dengan saya. Disaat mata-mata sinis, menatap masa kecil saya sebelah mata.

Masa kecil dalam keterbatasan disegala sisinya. Fisik yang terlihat lemah. Pandai berjalan, umur dua tahun setengah. Pergerakan yang tak gesit dan lincah. Pokoknya, jika besar nanti hanya akan “menyampah” ha..ha.. begitulah kira-kira.

Tapi tek Hasnidar berani melihat saya berbeda. Dari kecil, ia justru melihat saya istimewa. Itulah yang selalu di yakinkannya pada saya. Meski saya sendiri kerap menyanggahnya. Misalnya ketika ia mengatakan, bahwa saya bisa mewarisi kehebatan salah seorang paman saya. Yang juga abang sepupunya. Adek laki-laki ibu saya. Idola saya. Salah satu sosok yang kami banggakan dalam keluarga. Syaratnya; sungguh-sungguh dan harus sekolah.

Tapi saya, tetaplah saya. Dengan segala kenakalan dalam emosi liar tak terjaga. Bahkan pernah merasa muak dan tak mau lagi sekolah. Bahkan pernah meraih rangking terakhir, karena kenakalan-kenakalan saya di sekolah. 

Saat itulah Etek Hasnidar pernah menangis menasehati saya. Karena saya tak mau lagi sekolah. Akhirnya, tagisan dan nasehatnya itulah yang meluluhkan hati saya. Hingga mau melanjutkan ke Madrasah Aliyah Swasta. Dibawah Yayasan Pembangunan Umat Islam (YPUI) Teratak, di kampung saya. “Yang penting tamat Aliyah dulu aja udah. Ingatlah dengan sekolahlah kamu nanti bisa jadi orang”, ujarnya membujuk saya.

Setelah sempat dua tahun bekerja di percetakan, dekat kampus UNRI, Gobah. Tiba-tiba saya begitu terobsesi ingin kuliah. Saat keinginan kuliah saya sampaikan pada keluarga, Tek Hasnidar jugalah orang yang pertama mendukungnya. Bahkan ialah yang saban hari membujuk ibu saya, agar mau menguliahkan saya. 

Begitu juga ketika keraguan sempat melanda. Karena bukan dari sekolah unggulan, seperti kebanyakan teman kuliah lainnya. Tapi entah mengapa, ia selalu mengatakan sangat percaya kemampuan saya. “Yang penting mau bersunggu-sungguh, kamu pasti bisa. Pokoknya saya ingin nanti kamu membuktikannya”. 

Begitu nasehat dan motivasinya.
Mungkin karena itu jugalah, pada akhirnya saya berhasil tamat sebagai Wisudawan Pemuncak dengan prediket Cumlaude di Fakultas Dakwah, IAIN Susqa saat itu.

Ia jugalah salah satunya yang menyarankan agar saya jangan hanya sampai disitu. Meski sudah berkeluarga, dengan kesuitan ekonomi mendera, harus melanjutkan pendidikan S2. Mumpung masih muda. Bagaimana kalau nanti terkendala biaya? “pokoknya bertekad dan berniat baik saja” ujarnya.

Alhamdulillah tahun 2012, pada gilirannya saya berhasil menamatkan kuliah, dibantu beasiswa kementrian agama.

Saat itu Tek Hasnidar berjanji, akan menghadiri langsung Wisuda S2 saya di Jakarta. Sebagai ungkapan rasa syukur dan bahagianya. Meski saya tak bisa membantu ongkosnya. Begitulah perhatiannya terhadap pendidikan.

Sampai akhir hayatnya, Tek Hasnidar memang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan pendidikan dikampung saya. Masa pensiunnya sebagai PNS guru, sebenarnya masih ada empat tahun lagi. Seblum penyakit Diabetes menggerogotinya. Memakan saraf-saraf penglihatannya. Hingga terakhir mengakibatkan kedua ginjalnya tak berfungsi lagi.

Namun terakhir dalam segala keterbatasannya ia masih mimpin TK Nurulfalah. Taman Kanak-kanak Alqur’an, yang dari awal dirintisnya. Di sela-sela tugasnya sebagai staf pengajar, SMU 1 Rumbio Jaya. Ia juga membentuk kelompok pengajian ibu-ibu yang ingin belajar dasar-dasar agama.

Kini hadiah-hadiahnya itu terasa makin berharga.***

Penulis: Suardi
Dosen PNS Prodi Komunikasi UIN Suska Riau
Sumber foto: Suardi

Tidak ada komentar